| www.Allah.com www.Muhammad.com Tafsir Al-Qur'an oleh Nabi Pujian dan kedamaian kepadanya Lewat Hadis Sahih 1337 Hadis Sahih, 900 Keistimewaan, 830 Tafsir Karya Pakar Kutipan Kenabian(Muhaddis),Habib Abdullah Talidi Habib Ghumari dari Tanjir, Maroko Terjemahan Bahasa Indonesia dan Inggris by Aisyah Nadriyah & Anne Khadijah Khadim al Hadith Ahmed Darwish (c) 1431H -2010M Allah.com Muhammad.com ÈöÓúãö Çááøóåö ÇáÑøóÍúãóäö ÇáÑøóÍöíãö Kata Pengantar Ilmu Al-Qur'an æÕáì Çááå æÓáã æÈÇÑß Úáì ÓíÏäÇ ãÍãÏ æÂáå æÕÍÈå æÒæÌå æÍÒÈå ÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÇáøóÐöí ÃóäúÒóáó Úóáóì ÚóÈúÏöåö ÇáúßöÊóÇÈó æóáóãú íóÌúÚóáú áóåõ ÚöæóÌðÇ (1 ÇáßåÝ) ÊóÈóÇÑóßó ÇáøóÐöí äóÒøóáó ÇáúÝõÑúÞóÇäó Úóáóì ÚóÈúÏöåö áöíóßõæäó áöáúÚóÇáóãöíäó äóÐöíÑðÇ (1 ÇáÝÑÞÇä) æóÞõáö ÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÇáøóÐöí áóãú íóÊøóÎöÐú æóáóÏðÇ æóáóãú íóßõäú áóåõ ÔóÑöíßñ Ýöí Çáúãõáúßö æóáóãú íóßõäú áóåõ æóáöíøñ ãöäó ÇáÐøõáøö æóßóÈøöÑúåõ ÊóßúÈöíÑðÇ (111 ÇáÅÓÑÇÁ) ÇáúÍóãúÏõ áöáøóåö ÇáøóÐöí áóåõ ãóÇ Ýöí ÇáÓøóãóÇæóÇÊö æóãóÇ Ýöí ÇáúÃóÑúÖö æóáóåõ ÇáúÍóãúÏõ Ýöí ÇáúÂóÎöÑóÉö æóåõæó ÇáúÍóßöíãõ ÇáúÎóÈöíÑõ (1 ÓÈÃ) Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Alkitab (Al-Qur'an) kepada penyembah-Nya dan tidak mengadakan baginya kebengkokan. (Al-Kahf-18: 1) Maha Suci Dia yang telah menurunkan Alfurqon (Al-Quran) kepada penyembah-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam (jin dan manusia). (Al-Furqan-25: 1) Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak ada baginya sekutu dalam kerajaan dan tidak ada bagi-Nya penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia sebesar-besarnya." (Al-Isra'-17, 111) Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi dan bagi-Nya segala puji di hari keabadian. Dan Dia Yang Maha Bijaksana, Maha teliti. (Saba'-34: 1) Pujian, kedamaian, dan keberkahan, semoga selalu terlimpah, kepada sebaik-baik makhluk, dan Rasul termulia, Nabi Muhammad, yang suci dan menyucikan, juga kepada keluarganya, yang suci dan mengumpulkan keutamaan, serta para sahabatnya yang terpilih. Al-Quran adalah perlindungan dan jalan, menuju keselamatan dan kebahagiaan, merupakan pokok agama, konstitusi sistem hukum, hukum keadilan, serta perkataan yang terperinci. Al-Quran itu nikmat yang agung, dan kebanggaan, serta zikir bagi umat. Didalam Al-Qur'an, terkandung berbagai ilmu pengetahuan, kebenaran, pengajaran tentang akidah, ibadah dan akhlak, tata aturan kemasyarakatan, hukum-hukum pidana dan perdata, peperangan, keuangan, hak asasi manusia, urusan-urusan sosial dan hubungan internasional. Tidak ada kitab yang mengumpulkan semua itu selain Al-Qur'an. Al-Quran merupakan Risalah Allah Yang Maha Tinggi kepada para penyembah-Nya. Diturunkan kepada makhluk utama, dan Rasul terbaik, Nabi Muhammad, putra Abdullah, Bani Abdul Mutholib, Bani Hasyim, semoga pujian, berkah, rahmat , kedamaian, dan keselamatan, terlimpah kepadanya, beserta keluarganya, serta seluruh umatnya. Allah telah memerintah kepadanya, agar menyampaikan risalah-Nya, kepada seluruh penyembah-Nya, supaya mereka mengetahui, dan sepanjang hidup mereka, berada dijalan yang terang, sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di hari keabadian. Diantara anugerah agung dan kasih sayang Allah Yang Maha Tinggi pada umat, adalah menjadikan kitab suci ini, dalam bahasa arab, yang merupakan bahasa termulia dengan beragam bidang-bidangnya. Selama masa kenabian, bangsa arab yang mendengar sebuah ayat maupun surat, dalam Kitab Allah (Al-Qur'an), mereka memahami makna-maknanya, dan bukti-bukti (dalil-dalil) nya, juga mengetahui susunan kalimat, beserta penjelasan, dan ilmu-ilmu yang terkandung didalamnya. Penjelasan Nabi pujian dan kedamaian kepadanya kepada Al-Quran yang Mulia Al-Quran benar-benar kitab petunjuk bagi seluruh manusia. Datang dengan ajaran baru terpercaya. Didalam Al-Qur'an, terdapat perkara-perkara, dan struktur kalimat, yang tidak diketahui bangsa Arab sebelumnya. Maka Allah Yang Maha Tinggi menerangkan, dan menjelaskannya melalui Nabi Muhammad, pujian dan kedamaian kepadanya, dengan menurunkan wahyu kepadanya. Karenanya Allah berfirman, "Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Az-Zikr (Al-Qur'an) agar menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (An-Nahl-16: 44) "Dan Kami tidak menurunkan atasmu (Muhammad) Al-Kitab melainkan agar menjelaskan kepada mereka yang berselisih di dalamnya, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman." (An-Nahl-16: 64) Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, telah menerapkan Al-Qur'an pada dirinya sendiri, dalam segala ucapan, perbuatan, persetujuannya, petunjuk dan perikehidupannya. Karena itu bersabda dalam hadis berikut ini: "Perhatikanlah, dan sungguh aku telah diberi Al-Qur'an, dan yang sepertinya menyertainya." Hadis sahih dilaporkan Imam Ahmad, Abu Dawud dalam "Sunnah" dan Tirmidzi dalam "Ilm" . Yang diberikan kepadanya menyertai Al-Qur'an, yaitu sunnahnya yang mulia, dengan beragam bagian dan macamnya. Setiap ucapan dan perbuatannya, selama masa kenabian harum semerbak, tidak termasuk urusan-urusan pribadinya. Nabi Muhammad adalah keterangan global dan terperinci dari Al-Qur'an, yang mana telah menjelaskan, perkara-perkara yang samar didalamnya, menafsirkan isinya, menentukan hal-hal yang khusus dari perkara yang umum,dsb. Maka menjadikan seluruh isi Al-Qur'an, menjadi jelas bagi sahabat-sahabatnya. Imam Syafi'i, semoga Allah meridainya, berkata: Setiap perkataan Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, adalah penjelasan Al-Qur'an, dan setiap yang diucapkan para ulama', adalah penjelasan sunnah. Nabi Muhammad, pujian dan kedamaian kepadanya, sungguh telah menjelaskan, kepada para sahabatnya, kata-kata dan makna-makna, yang ada didalam Al-Qur'an. Allah berfirman, "Agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (An-Nahl-16: 44) Abu Abdurrohman As-Sulami, semoga Allah merahmatinya, berkata: Para pembaca Al-Qur'an seperti Usman bin Affan, Abdullah bin Mas'ud, dan lainnya, semoga Allah meridhai mereka, melaporkan bahwa mereka telah belajar Al-Qur'an dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya. Di setiap sepuluh ayat, mereka benar-benar telah memahami, segala ilmu dan amalan, yang terkandung didalamnya, baru kemudian melanjutkan pada ayat berikutnya. Mereka berkata : Kami telah mempelajari Al-Qur'an, beserta ilmu-ilmunya serta mengamalkannya. Lihat: Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Itqon dan Mukoddimah Tafsir. Dengan perkenan, dan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi, Syekh Talidi telah meneliti, dan mengumpulkan hadis Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, tentang tafsir yang sahih, maupun yang menyerupainya. Diambilnya dari hadis sahih, serta dari Kumpulan dan Induk Sunnah Muhammadiyah yang masyhur. Inilah kitab tafsir, berdasarkan hadis sahih yang pertama kali. Adapun kitab-kitab yang ada sebelumnya, telah tercampuri hadis-hadis lemah (maudu'). Ada perkataan Imam Ahmad, semoga Allah merahmatinya, yang terkenal: Tiga perkara, yang kerap tidak memiliki asas, yaitu tafsir, menceritakan tentang peperangan, dan sejarah peperangan. Biasanya tidak ada dasar hadis, dan sanad (rantai pelapor) yang sahih, namun jika ternyata ada banyak sahihnya, itu lebih baik. Alhamdulillah, dalam tafsir ini, seluruh hadisnya adalah sahih. Tafsir Menurut Ulama Tafsir secara bahasa, yaitu penjelas, penerang, dan penyingkapan tujuan, dari kata-kata (lafadz-lafadz) yang sukar. Inilah ringkasan perkataan ulama' bahasa. Secara istilah, yaitu ilmu untuk bisa memahami kitab Allah, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, pujian dan kedamaian kepadanya, dan penjelasan makna-maknanya, menunjukkan hukum-hukum dalam Islam, Iman dan Ihsan, yang sumber datangnya, diantaranya dari Ilmu bahasa, tasrif, nahwu, ilmu bayan, ushul fiqh, beragam bacaan dan pengetahuan sebab-sebab turunnya ayat, serta ilmu nasih mansuh (penggantian hukum dengan hukum yang lain). Pengertian secara istilah lainnya yaitu, penyingkapan makna-makna Al-Qur'an, dan penjelasan panjang lebar kata-kata yang sukar, dan sebagainya, maupun makna-makna yang tampak, dan sebagainya. Orang Islam Butuh Tafsir Al-Qur'an Melalui Kalam (Perkataan) Nabi (pujian dan kedamaian kepadanya) Sepanjang masa, manusia akan selalu butuh Ilmu tafsir Al-Qur'an. Hendaknya mempelajari dengan menghafal kata-katanya, dan memahami maknanya, serta bukti-bukti (dalil-dalilnya). Setiap muslim wajib mengetahui ilmu tafsir. Wajib ada pada suatu kaum, orang yang benar-benar ahli dalam ilmu tafsir. Dengan memahami Al-Qur'an, meskipun secara global, dapat membantu menghayati, maksud yang terkandung didalamnya, ketika membacanya. Orang yang tidak memperhatikan hal ini, tidak akan bisa merasakan, buah kelezatan dari Al-Qur'an, bagaikan nasehat dengan janji dan pesannya, ibarat dalam kisah-kisah cerita, dsb. Adapun manfaat menghayati Al-Qur'an yaitu, untuk mempertebal keimanan, meningkatkan kecintaan kepada Allah, menguatkan keyakinan, sebagai zikir dengan menyebut Nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, serta bukti-bukti keesaan-Nya, serta menangis karena takut akan kebesaran dan keagungan-Nya, sarana menjauhkan diri dari kehidupan yang melalaikan,dan sebagai amal untuk hari keabadian. Allah berfirman, "Kitab (Al-Qur'an) Kami telah menurunkannya kepadamu penuh berkah agar menghayati ayat-ayatnya dan untuk mengingatkan orang-orang yang berakal." (Sad-38: 29) "Maka apakah tidak menghayati Al-Qur'an atau hati mereka sudah terkunci? (Muhammad-47: 24) Empat Kategori Tafsir Para Ulama membagi tafsir dalam empat kategori: Pertama: Apa yang bisa difahami, oleh siapapun yang membacanya, baik orang yang berilmu, maupun orang awam. Seperti firman Allah Yang Maha Agung tentang orang munafik: "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'janganlah berbuat kerusakan di bumi!' mereka menjawab, 'sesungguhnya kami melakukan perbaikan (pembaharu)'. Perhatikanlah! sungguh merekalah para perusak, akan tetapi tidak merasa." (Al-Baqarah-2: 11-12) Ayat diatas sangat jelas, dan tidak samar maknanya bagi siapapun. Demikian pula, dalam firman-Nya ini: "Sungguh beruntung orang-orang beriman. Yang mereka didalam shalat mereka merendahkan hati (khusyu'). (Al-Mu'minun-23: 1-2) Ayat tersebut juga bisa diketahui, dan difahami maknanya, oleh siapa saja, baik itu orang yang mahir dalam ilmu agama, maupun orang biasa. Demikian pula misalnya ayat tentang hukum-hukum Allah, kewajiban-kewajiban agama, dan bukti-bukti keesaan. Setiap orang dapat mengerti makna keesaan, dari firman Allah berikut ini: "Maka ketahuilah bahwa sungguh tidak ada tuhan selain Allah." (Muhammad-47: 19) Bahwasanya Allah Yang Maha Besar, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ketuhanan. Lafadz "tidak ada" maknanya secara bahasa sangat jelas, yakni menunjukkan ketiadaan. Sedang "selain" menunjukkan pengecualian. Makna kalimat diatas, akhirnya menyempit, dalam arti bisa difaham siapa saja. Bahkan orang biasa pun, bisa mengerti dalam firman-Nya berikut ini, "Mendirikan shalat." (Al-An'am-6: 72) "Dan tunaikanlah zakat." (Al-Baqarah-2: 43) "Karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah." (Al-Baqarah-2: 185) "Dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua." (Al-Hajj-22: 29) "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (hari keabadian)." (Al-Hasyr-59: 18) Jelas sekali, ayat-ayat diatas bermakna "kerjakan", yang berarti kewajiban untuk dilakukan. Demikian pula, dalam firman Allah, Yang Maha Besar, berikut ini: "Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan...." (An-Nisa'-4: 23) Tentunya ayat tersebut, bisa dimengerti maknanya, sekalipun bagi orang biasa. Kedua: Apa yang dapat dimengerti, dengan ilmu lisan orang arab, baik kata-kata yang menyusunnya, makna-makna, maupun dalil-dalilnya, dimana terkandung kaidah-kaidah nahwu, shorof, bahasa dan balaghoh didalamnya. Karena Al-Qur'an, diturunkan dengan lisan orang arab, maka mereka memahaminya, kecuali adanya ajaran baru, yang datang disertai hadis. Ketiga: Apa yang bisa difahami, oleh orang yang benar-benar mahir, dalam keseluruhan ilmu, dan kaidah-kaidah, dimana membantunya lebih sempurna, untuk memahami Al-Qur'an, berisi kaidah-kaidah ushul dan fiqih. Keempat: Apa yang hanya diketahui, oleh Allah Yang Maha Agung maknanya, seperti Ilmu rahasia Kitab-Nya, pengetahuan tentang Dzat-Nya, dan kegaiban-Nya, yang kesemuanya itu, dikuncinya sendiri, tidak diketahui siapapun. Juga seperti beberapa ayat pembuka surat, yang misterius maknanya; dan ayat tentang sifat-sifat-Nya, yang seringkali menyebabkan kesalahpahaman, menyangka adanya keserupaan (sedang Allah berbeda dari makhluk-Nya), sebagaimana firman Allah berikut ini, "Yang Maha Pengasih, diatas singgasana menakdirkan." (Taha-20: 5) Menyikapi ayat ini, kita wajib beriman, menurut apa yang dikehendaki Allah, Yang Maha Tinggi, dan tidak mencari-cari hakikat ayat tersebut. Demikian pula, di setiap ayat tentang sifat Allah, dalam Al-Qur'an, yang menampakkan keserupaan dengan Makhluk-Nya, seperti: tangan, kanan, kaki, pendengaran, penglihatan, perkataan, sombong, tertawa, senang, marah, dsb. Maka semua keserupaan itu, tidak bisa disimpulkan (ijtihadkan), dan diartikan (ta'wil), kecuali dengan pernyataan yang datang dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, tentang ayat tersebut, atau hadis sahih, ataupun kesepakatan para ulama'. Perkara-perkara yang tidak boleh dijelaskan, kecuali dengan Hadis Sahih Kita harus mengetahui, hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur'an, namun tidak boleh menyelami perkataan (kalam) itu, kecuali dengan mendengar langsung dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, atau dari sahabat-sahabatnya, yang telah menyaksikan turunnya wahyu. Mereka mengabarkan, apa yang dilihat, dan didengarnya, dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, hingga sampai pada kita sekarang, yang mencakup, sebab-sebab turunnya Al-Qur'an (Asbabun Nuzul), Ilmu penggantian hukum (Nasikh Mansukh), aneka bacaan, ragam bahasa, kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu, aneka kejadian di alam semesta, tentang urusan hari keabadian (akhirat), keadaan alam kubur, hari kebangkitan dan penghitungan, surga, neraka, dsb. Perkara-perkara itu, didasarkan atas mendengar langsung dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, dan pelaporan yang kuat dan benar. Sangat diharamkan perkataan atau pelaporan, tanpa dasar yang kuat. Sumber Asal Tafsir Sumber asal tafsir Kitab Allah, Yang Maha Agung, meliputi tiga hal: 1. Al-Qur'an yang mulia, inilah sumber paling sah, dan tertinggi. Alangkah indahnya Al-Qur'an, ketika terdapat satu ayat, yang samar maknanya, maka menjadi jelas, di ayat lainnya; dan jika ada kalimat, yang kurang bisa dipahami, maka terdapat kalimat lain, yang bisa memahamkannya, dalam Al-Qur'an. Begitu juga, hal-hal yang bersifat umum di satu tempat, akan menjadi khusus di tempat yang lain, dsb. Demikianlah Al-Qur'an, menjadi sumber asal tafsir. Pembahasan terbesar hal tersebut, terdapat di tafsir Ibnu Katsir. Syekh Talidi banyak mencurahkan perhatian pada tafsir Ibnu Katsir. Di masa ini, kitab Syekh Muhammad As-Syinqithi, semoga Allah merahmatinya, berjudul "Adhwa'ul Bayan Fi Idhohil Qur'an Bil Qur'an", berisi pembahasan tafsir, yang mengagumkan, terdiri dari sembilan jilid. 2. Jalan Nabi Muhammad (sunnah), ialah penjelasan yang lebih meluas, dari Al-Qur'an. Berjilid-jilid buku, maupun kitab dan rekaman, tentang sunnah kenabian, yang membahas dengan menarik, dan terperinci, tentang tafsir, dan penjelasan dari Al-Qur'an. Wajib diketahui, bahwa Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, telah menerangkan kepada para sahabatnya, makna-makna Al-Qur'an, sebagaimana menjelaskan pada mereka kata-katanya, dan lain sebagainya. 3. Ucapan para sahabat, semoga Allah meridai mereka, seperti empat khalifah, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Ibnu Umar, Ubay bin Ka'ab, dan lain-lainnya, semoga Allah meridhai mereka, yang telah menyaksikan jalan turunnya wahyu, maka penafsiran mereka, kembali pada dua perkara: * 3.1 Mendengar langsung dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, dan yang menyaksikan turunnya wahyu. Mereka juga melihat bukti-bukti (dalil-dalil), karena itu, penafsiran mereka sebaik hadis sahih. Mereka menjadi hujjah (dasar kuat), dalam tafsir. 3.2 Mereka yang memahami bahasa Al-Qur'an, dengan mendalam, karena mereka, orang arab asli. Mereka sendiri, adalah hujjah (dasar kuat), dalam tafsir. Ibnu Abbas, semoga Allah meridhainya, adalah penerjemah Al-Qur'an, dan guru utama umat ini. Pemimpin dalam bidang tafsir ini, merupakan samudera pengetahuan, yang terpercaya, dimana Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, telah berdo'a untuknya, "Ya Allah, dalamkanlah pengetahuannya, dalam agama, dan ajarilah dia, pentakwilan." (Dilaporkan Imam Ahmad; dan didalam sahih Bukhari Muslim, dengan kalimat "Ya Allah, ajarkanlah dia hikmah", dalam pelaporan lain, "Ajarkanlah dia Al-Kitab"). Dengan dasar itu, maka tidak ada yang menyamai kepandaiannya, dalam bidang tafsir. Karenanya, Imam Bukhari dalam kitab Sahihnya, bersandar pada penafsirannya, melalui jalan Ali bin Abi Tolhah, yang telah mengambil penafsiran dari muridnya, seperti Qosim bin Muhammad dan Mujahid, ia berkata, "Sungguh dia (Mujahid) telah membaca (Al-Qur'an) kepada Ibnu Abbas, tiga kali tamat, berhenti di tiap-tiap ayat (sehingga benar-benar memahaminya)." Adapun Imam Ali, semoga Allah meridhainya, yang menjadi pemimpin para sahabat penafsir, banyak mengambil ilmu tafsir, dari Ibnu Abbas, karena dia tidak fokus pada ilmu tafsir semata, sebagaimana Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud. Semoga Allah meridhai mereka semua. Maka ketiga macam ini – Penafsiran dengan Al-Qur'an, Penafsiran dengan sunnah, dan pentafsiran dengan ucapan para sahabat – merupakan sumber asal tafsir. Sedang penafsiran generasi setelah sahabat, berdiri sendiri, meski penafsiran mereka, diambil dari para sahabat. Semoga Allah meridhai mereka semua. Sejarah Tafsir Selama masa kenabian, jaman sahabat, dan generasi setelahnya, ilmu tafsir dihafalkan, dan telah melekat didada. Mereka hafal diluar kepala, dan sangat memahaminya, sehingga tidak membukukannya. Adapun di masa-masa sesudahnya, orang-orang yang pandai dibidang tafsir, banyak yang meninggal dunia, sehingga supaya tidak hilang, dan bisa sampai pada generasi selanjutnya, maka mulai ditulis penafsiran mereka, yang berasal dari Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, sahabat, dan generasi setelah sahabat. Ulama'-ulama' besar, yang pertama kali berjasa, mengambil penafsiran mereka yang pandai dibidang tafsir, dan membukukannya, yaitu Abdur Razzaq As-sona'ani, Ibnu Sibeh, Ibnu Jarir At-Tobari dan Ibnu Abi Hotim, serta orang-orang terdahulu yang seperti mereka. Kemudian ada Al-Bagowi, yang menghidupkan sunnah. Dimasa selanjutnya, ada Imam Ibnu Katsir dan As-suyuti. Selama tiga abad sejak kehadiran Islam, penafsiran yang ada, masih murni dan asli. Ketika ditulis induk sunnah yang besar, dikhususkan sebagian besar bagian-bagiannya, dalam bab-bab tafsir. Penulis-penulis yang terkenal dalam Ilmu Tafsir yaitu, Imam Bukhari, Nasa'i, Tirmidzi, dan lain-lainnya, dimana kitab karya mereka, dikenal dengan "Sembilan Kitab Termasyhur"(pembahasan tafsir, terdapat didalam sebagian isi kitab mereka). Sedang kitab tafsir yang masyhur lainnya, tidak bersanad, yaitu seperti Tafsir Nasafi, Tafsir Qurtubi, Mafatihul Ghoibi karya Ar-Rozi, Lubabut Ta'wil karya Al-Khozin, Al-Bahr karya Abi Hayan, Ruhul Bayan karya Alusi, dsb. Kitab Tafsir Yang Bagus Dan Mencukupi Sebagian masyarakat bertanya, tentang kitab tafsir yang bagus, untuk bisa mengerti Perkataan Allah, Yang Maha Agung, dengan paham sempurna, dari berbagai sisinya. Jawabannya adalah, bahwa kitab tafsir terbaik, lengkap, dan padat isinya, yaitu kitab tafsir karya Muhammad bin Jarir At-Tobari, guru para ahli tafsir, dimana Imam Nawawi berkomentar tentangnya, "Dalam umat ini, tidak ada yang menyamai kitab tafsirnya." Berujar pula Imam Suyuthi, "Dia adalah ahli tafsir yang besar, dan agung." Sebelumnya, Abu Hamid Asfaroyini juga berkomentar, "Andaikan seseorang, sampai harus bepergian, ke negeri Cina, untuk menggapainya, tetap tidak akan bisa sebanding dengannya." Adapun tafsir Ibnu Katsir, lebih baik dari Ibnu Jarir, dari segi pengumpulan hadis, pernyataan sahabat (atsar), dan menunjukkan asal datangnya dari induk hadis, dan pokok-pokoknya, yang berbagai macam, beserta opini, dan ringkasan yang berguna. Banyak yang mengakui, kelebihannya ini, seperti Suyuthi dalam kitabnya, Zarqoni dalam "Syarah Mawahib", dan Ibnu Ja'far Al-Kittani dalam "Risalah Mustatrofah". Kitab Tafsir Suyuthi "Duru Mantsur" tentang tafsir, dengan pelaporannya, disusun dengan sangat baik, yang seandainya dia tidak meringkas, dan telah menyelesaikannya, niscaya menjadi kitab terbaik di alam. Berikut ini, beberapa kitab tafsir, yang baik dan mencukupi: 1. Tafsir Ibnu Katsir 2. Tafsir Rozi, Mafatihul Ghoib 3. Tafsir Alusi, Ruhul Bayan 4. Tafsir Qurtubi Kitab-kitab tersebut, merupakan kitab tingkat tinggi, dalam Ilmu Tafsir. Kitab tafsir nomor 1 sampai dengan 3 diatas, sudah sangat mencukupi, untuk dijadikan pegangan, dalam memahami Al-Qur'an, secara lebih mendalam, dari berbagai sisinya. Adapun kitab ilmu tafsir pertengahan, atau yang lebih rendah tingkatannya, namun cukup juga, untuk dijadikan panduan, dalam menghayati ayat-ayat Al-Qur'an, bisa memakai salah satu, dari kitab-kitab ini: Tafsir Nasafi, Baidowi atau Khozin. Sedang kitab tafsir, yang ditulis oleh, ulama'-ulama' dimasa sekarang, diantaranya yaitu: Tafsir Sofwatut Tafasir, ataupun Muqtatof Min Uyunit Tafasir. Insya Allah, kitab-kitab ini, dapat mencukupi. Kitab ilmu tafsir, yang ada di tangan anda sekarang ini, lebih utama, dari kitab-kitab diatas, karena inilah, tafsir Al-Qur'an oleh Nabi, Pujian dan kedamaian kepadanya, lewat hadis-hadisnya yang sahih. Ilmu-Ilmu Yang Mendukung, Dalam Memahami Al-Qur'an Ilmu apakah yang terpenting, supaya bisa memahami Al-Qur'an yang mulia, yang sesuai, dengan standar ukuran manusia? Jawabnya, adalah ilmu-ilmu berikut ini: Pertama : Ilmu bahasa arab, dengan beragam bidangnya, seperti: - Kaidah-kaidah Nahwu, membahas perubahan makna, dari suatu kata - Tasrif, membahas perubahan bentuk kata - Istiqoq - Mengetahui makna-makna kosakata, dalam bahasa arab, baik arti yang sebenarnya, maupun arti kiasan. - Ilmu Balaghoh, meliputi: Bayan, Ma'ani, dan Badii'. Ini sangat penting, dalam ilmu tafsir. Yang kesatu, mengetahui kalimat-kalimat khusus, perbedaan-perbedaannya, kejelasan, dan kesamarannya; yang kedua, mengetahui susunan-susunan yang khusus, dalam kaitan pemberian maknanya; yang ketiga, mengetahui ilmu membaguskan kalimat. Inilah ilmu-ilmu pokok yang pertama. Kedua : Ilmu bacaan-bacaan yang berbeda, yang sampai turun temurun, secara berkelompok, maupun perseorangan, yang disahkan. Ketiga : Ilmu Asbabun Nuzul, mengetahui makna ayat, menurut sebab-sebab diturunkannya. Ini sangat penting, untuk mengerti makna suatu ayat. Keempat: Mengetahui ilmu penggantian hukum (Nasikh Mansukh), supaya bisa diketahui, kepastian yang harus dikerjakan, dari yang digantikan, atau yang diangkat hukumnya. Para ahli tafsir menyebut, bahwa ayat yang diangkat hukumnya, tidak lebih dari, dua puluh ayat. Kelima : Adanya ilmu yang luas mendalam, dalam Sunnah Kenabian, yaitu sumber pokok kedua, dalam ajaran Islam, dan penjelasan Al-Qur'an yang detail, dan terperinci. Sangat disayangkan sekali, karena banyak penafsir yang rabun, dengan mendatangkan hadis lemah, dusta dan ingkar, dalam penafsiran mereka, yang mana, itu semua diketahui, dikalangan para ulama' ahli hadis. Ini adalah aib besar, terjadi pada orang, yang tidak memiliki pemahaman mendalam, di bidang ilmu hadis. Keenam : Mengerti benar Prinsip-prinsip agama (Ushuluddin), dan Kaidah-kaidah Keislaman. Memahami apa yang wajib ada pada Allah, dan pada Utusan-utusan-Nya, yang mustahil, maupun yang diperbolehkan, dsb. Ketujuh: Adanya pengetahuan mendalam, tentang prinsip-prinsip hukum Islam. Supaya mengerti, cara membuat bukti (dalil) dalam hukum, dan memerincinya, sesuai kebutuhan. Ilmu ini sangat penting, dalam hukum-hukum agama Islam. Siapapun yang menguasai ilmu-ilmu pendukung ini, dengan mudah akan dapat memahami Al-Qur'an, menurut standar ukuran manusia, meski tidak hafal seluruh bagiannya secara mendetail, namun mengerti asas dan pokok, dalam bagian-bagiannya secara umum. Sehingga, jika menemukan suatu permasalahan, segera kembali pada referensi tersebut. Dan perkara itu mudah, bagi siapapun yang dimudahkan Allah, Yang Maha Agung. Adapun orang yang tidak mampu menguasai, ilmu-ilmu pendukung tersebut, maka hendaknya, kembali pada kitab tafsir pertengahan, untuk membantunya memahami, makna-makna Al-Qur'an, lebih mendetail, sehingga bisa menghayatinya, dan menikmati buahnya. Semoga Allah, Yang Maha Memberi Petunjuk, memberi pertolongan, menuju jalan yang lurus. Tujuan Al-Qur'an yang mulia Tujuan-tujuan pokok dalam Al-Qur'an, meliputi: Keesaan Allah (tauhid), hukum-hukum, kisah-kisah, akhlak, dan atau sebagaimana, yang tercantum berikut ini: Pertama: Pengesaan Allah (tauhid), dan undangan untuk, lebih mengenal Allah, Yang Maha Agung. Keimanan dan memberi kesaksian, untuk menyembah-Nya sendirian, dan pelarangan menjadikan sekutu bagi-Nya. Meluber penyebutan ketuhanan Allah, dan pemeliharaan-Nya, Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, beserta perincian-perinciannya, yang mana, ini semua khusus terdapat, di surat-surat yang diturunkan di Mekah (Makkiyah). Kedua : Penjelasan tentang makhluk, dan berbagai inovasi, dalam penciptaannya, yang mana tertuang, di setiap surat, dan bukti-bukti, yang menunjukkan keesaan-Nya, dsb. Serta adanya kehidupan abadi, sesudah kematian. Ketiga : Perkataan-Nya tentang kematian dan alam kubur; kejadian hari kiamat, dan tanda-tandanya; kebangkitan dari kubur, dan persiapan penghitungan; masa ketika penghitungan; keadaan di hari kiamat; detik-detik penghitungan amal; jembatan yang melintasi neraka, untuk menuju surga (sirath), pembalasan amal; surga neraka, dan sifat-sifatnya; serta kenikmatan, dan siksa ,yang dijanjikan, bagi para penghuninya. Keempat: Penjelasan jalan yang lurus, yaitu Akidah (keimanan), Islam (meliputi ibadah, dan urusan-urusan sosial keislaman), dan Ihsan (budi pekerti yang luhur, disertai ketulusan hati (ikhlas)); dan kehendak Allah, supaya anak cucu Nabi Adam menerapkannya. Terdapat penyebutan, tingkah laku yang membersihkan jiwa, menerangi hati, dan tentang teguh pendirian (istiqomah), serta keharusan beramal. Disertai juga, penyebutan kebalikannya, yaitu orang-orang yang hina, dan yang menjerumuskan diri dalam kehancuran, mereka tercela dalam agama, dari segi kemanusiaan, dan fitrahnya. Kelima : Penyebutan segala kenikmatan, yang dianugerahkan Allah, kepada para Utusan (Nabi)-Nya, orang-orang terpercaya, para syuhada' (mereka yang mati membela agama Allah), orang-orang saleh, para ulama' yang mengamalkan ilmunya, orang-orang beriman yang baik, beserta segala sifat, dan keadaan lahir mereka, serta orang-orang, yang didekatkan dengan Allah. Keenam : Penjelasan kekufuran, orang-orang yang kafir, kesesatan, orang-orang zalim, para pendosa, orang-orang munafik, dan nasib, serta akhir perjalanan mereka, di dunia dan akhirat. Juga keputusan Allah, Yang Maha Agung, atas mereka. Ketujuh: Terdapat kisah-kisah para Nabi, beserta umat-umat mereka, dan bagaimana Allah, telah memberi mereka pertolongan (kemenangan), dan menghancurkan para penentangnya. Menerangkan juga, hal ihwal dan kegigihan mereka, menghadapi orang-orang yang ingkar. Kisah-kisah tersebut, memenuhi sepertiga dari Al-Qur'an. Kedelapan: Menerangkan hukum-hukum, dalam ajaran Islam, seperti: ibadah, urusan-urusan sosial keislaman (muamalah), hukum-hukum pidana dan perdata, hukum waris, hubungan perkawinan, jihad, perikehidupan Nabi, urusan politik dan konstitusi keislaman, sistem pemerintahan, dan hubungan internasional keislaman. Kesembilan: Penyebutan berbagai ilmu pengetahuan, dan aneka peristiwa dimasa lalu, yang tidak kita ketahui sebelumnya, maupun peristiwa, dimasa yang akan datang. Terkandung fakta-fakta ilmiah, yang tidak diketahui manusia, kecuali sebagiannya saja, dan masih terdapat ilmu-ilmu, yang masih belum bisa diungkap manusia. Surat Al-Fatihah AL FAATIHAH Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. [1.1] Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. [1.2] Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. [1.3] Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. [1.4] Yang menguasai hari pembalasan. [1.5] Engkau (sendirian) kami menyembah dan Engkau (sendirian) kami menyandarkan pertolongan. [1.6] Tunjukkan kami jalan yang lurus, [1.7] Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan mereka yang dimurkai maupun mereka yang sesat. Surat Al-Fatihah yang mulia ini, termasuk diantara golongan surat, yang diturunkan di Mekah (Makkiyah). Terdiri dari tujuh ayat. Merupakan miniatur mini (intisari) dari Al-Qur'an. Didalamnya terkandung, tujuan-tujuan pokok Al-Qur'an. Keistimewaan Surat Al-Fatihah Tujuan-tujuan, Al-Qur'an, sebagaimana, disebut diatas, yang meliputi berbagai macam, dan bagian-bagian, terkandung secara global, didalam surat Al-Fatihah. Inilah rahasia, mengapa, surat ini, disebut Induk Al-Kitab, atau, Induk Al-Qur'an, atau, Al-Qur'an, yang agung. Ini adalah keistimewaan, yang tidak ditemukan, di surat-surat lainnya. Keistimewaan sebagai surat, paling agung, dalam Al-Qur'an, tampak, dalam hadis berikut ini: Abi Said bin Mualla, semoga Allah meridhainya, berkata: "Aku sedang shalat, kemudian Rasulullah pujian dan kedamaian kepadanya lewat didekatku, lantas memanggilku, maka aku tidak datang, hingga aku selesai shalat, habis itu aku datang kepadanya. Kemudian, beliau, bersabda, "apa yang, mencegahmu, datang kepadaku, bukankah, Allah berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman, jawablah, bagi Allah dan bagi Rasul, apabila memanggilmu, kepada apa yang menghidupkanmu.' (Al -Anfal,8: 24), sesudah itu, bersabda, "sungguh, aku, akan, mengajarkanmu, surat, terhebat, dalam Al-Qur'an, sebelum, aku keluar" kemudian, Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, pergi, untuk keluar, segera, aku, menanyakannya, beliau, lalu, bersabda, 'Segala puji, bagi Allah, Tuhan, semesta alam.' Yaitu, tujuh ayat, rangkap dua, (diturunkan, dua kali, di Mekah, dan Madinah), dan Al-Qur'an, yang, agung, yang, diberikan, kepadaku." Keistimewaan lainnya, yaitu, berdasarkan, kesepakatan, para ulama', bahwasanya, surat Al-Fatihah, ini, mencukupi, untuk, dibaca, dalam shalat, sedang surat-surat lainnya, tidak, mencukupi, yang, berarti, tetap, harus, membaca, surat Al-Fatihah, didalam shalat. Diantara, Keutamaan, Surat Al-Fatihah Abu Hurairah, melaporkan, bahwa Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Siapapun yang shalat tanpa membaca induk Al-Qur'an (surat Al-Fatihah), maka berkurang - (mengucap kata 'berkurang') tiga kali - tidak sempurna." Dikatakan kepada Abu Hurairah, "Kami berada di belakang imam", Abu Hurairah kemudian berkata: Bacalah itu (Surat Al-Fatihah) dalam dirimu sendiri, sungguh aku telah mendengar Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda: "Allah, Yang Maha Tinggi, berfirman: Shalat terbagi antara Aku dan penyembah-Ku separo-separo, dan bagi penyembah-Ku apa yang dimintanya. Maka ketika penyembah membaca ayat: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Allah, Yang Maha Agung, berfirman: Penyembah-Ku telah memuji-Ku. dan ketika penyembah membaca ayat: Yang Maha Mengasihi, Maha Menyayangi. Allah, Yang Maha Besar, berfirman: Penyembah-Ku telah menyanjung-Ku. dan ketika penyembah membaca ayat: Yang menguasai hari pembalasan. Allah, Yang Maha Terpuji, berfirman: Penyembah-Ku telah mengagungkan-Ku. (Dalam pelaporan lain), Berfirman: Penyembah-Ku telah menyerahkan kepada-Ku. Maka ketika membaca ayat: Engkau (sendirian) kami menyembah dan Engkau (sendirian) kami menyandarkan pertolongan. Dia berfirman: Ini antara Aku dan penyembah-Ku, dan untuk penyembah-Ku, apa yang dia minta. Dan ketika membaca ayat: Tunjukkan kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan mereka yang dimurkai maupun mereka yang sesat. Dia berfirman: Ini untuk penyembah-Ku dan untuk penyembah-Ku apa yang dia minta. (Dilaporkan Imam Ahmad dalam musnadnya, Sahih Muslim dalam bab Shalat, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi dalam Fadhoilul Qur'an, Imam Nasa'i dalam Sunan Al-Kubro dan Al-Mujtaba, Imam Ibnu Majah dalam Shalat serta lain-lainnya) Firman Allah, Yang Maha Agung, "bukan mereka yang dimurkai maupun mereka yang sesat." Dari sahabat Ady bin Khatim, semoga Allah meridhainya: bahwa Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Mereka yang dimurkai yaitu orang-orang Yahudi, dan mereka yang sesat yaitu orang-orang Nasrani." (Hadis Sahih atau Hasan, dilaporkan Imam Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Jarir dalam tafsir keduanya dan Ibnu Hibban dalam bab Ihsan, serta lain-lainnya) Dari hadis diatas, terdapat tafsir dan penjelasan, dari kesamaran yang ada diayat "mereka yang dimurkai maupun mereka yang sesat". Sesungguhnya orang-orang Yahudi itu dimurkai, sebab mereka telah mengetahui kebenaran, namun menyembunyikannya. Tentang mereka Allah berfirman, "Siapa yang Allah melaknatnya dan murka kepadanya." (Al-Ma'idah-5: 60). Sedangkan orang-orang Nasrani, mereka mendatangi kesesatan, karena kebodohan mereka, dan mengikuti begitu saja pada rahib-rahib mereka. Tentang mereka Allah berfirman, "Benar-benar tersesat sebelumnya dan menyesatkan." (Al-Ma'idah-5: 77) Demikian penafsiran yang disepakati para ulama' ahli tafsir. Tidak terdapat hadis sahih lain yang menafsirkan surat Al-Fatihah yang mulia ini, selain yang telah disebutkan diatas. Adapun yang berhubungan dengan sebagian makna, seperti "jalan orang-orang yang diberi kenikmatan", maka keterangannya dalam hadis sahih, terdapat di surat lainnya, yang membahas hal tersebut. Dan segala puji bagi Allah, yang dengan kenikmatan-Nya menyempurnakan kebaikan. Semoga pujian, kedamaian dan keberkahan, selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad, dan keluarganya, sahabatnya serta umatnya, selama-selamanya. Surat Al-Baqarah Surat yang diturunkan di Madinah (Madaniyah) ini, termasuk surat terpanjang dalam Al-Qur'an. Ayatnya mencapai 286 ayat. Merupakan surat urutan pertama, dari tujuh surat permulaan terpanjang. Diantara mereka, surat ini yang paling utama, karena tercakup didalamnya tujuan-tujuan agama, beserta pokok-pokok dan prinsip-prinsipnya. Jarang sekali tema, ataupun maksud dari tujuan-tujuan Al-Qur'an, yang tidak disebut di surat ini, baik secara global maupun terperinci. Terkandung didalamnya prinsip-prinsip dalam beragama, seperti: Iman (percaya) kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Utusan (Rasul)-Nya, dan Hari Akhir (Hari Keabadian). Juga tercantum banyak sekali nama-nama dan sifat-sifat. Nama Allah sendiri didalam surat Al-Baqarah ini, disebut sekitar dua ratus lima puluh kali. Nama Tuhan yang diulang-ulang penyebutan-Nya, dalam surat Al-Baqarah, mencapai tiga puluh tujuh kali. Diantara Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya yaitu: Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat, Maha Baik, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Kaya, Maha Terpuji, Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Hidup Kekal, Maha Berdiri Sendiri, Maha Menerima Syukur, Maha Pencipta, Maha Luas, Maha Mendengar, Maha Penolong, Maha Melihat, Maha Mengadakan, Maha Meliputi, Maha Kuasa, Maha Tunggal, dsb. Terdapat juga pembahasan tentang Risalah, Qur'an, Surga, Neraka, dsb. Ada pula Perkataan yang berkaitan dengan shalat, puasa, zakat, haji, urusan-urusan perkawinan, ekonomi keislaman, keimanan, peringatan-peringatan, makanan dan minuman yang halal, hukum kriminal berdarah, wasiat, gadai, utang piutang, kesaksian, sampai mengenai akhlak, aneka keutamaan, tujuan-tujuan dalam ajaran Islam juga terletak didalamnya. Sahabat Abdullah bin Umar, semoga Allah meridhainya, secara khusus mendalami ilmu dalam surat Al-Baqarah, selama delapan tahun. Keistimewaan Surat Al-Baqarah Surat ini sangat istimewa, karena sebagian diturunkan di Mekah, dan sebagiannya lagi diturunkan di Madinah. Terdapat karakteristik istimewa yang tidak ditemukan di surat lainnya. Kelebihan Surat Al-Baqarah Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, melaporkan bahwa Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan lari tunggang langgang, dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqarah. (Dilaporkan Imam Ahmad, Muslim dalam Shalat, Tirmidzi dalam Fado'ilul Qur'an, dan laporannya "sesungguhnya rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah didalamnya tidak akan dimasuki setan) Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan", mengandung dua makna: - Jangan meninggalkan shalat (sunah) dalam rumah kalian, agar tidak menjadi seperti kuburan. - Jangan mengubur mayat didalam rumah, karena akan menjadi kuburan. Dalam hadis tentang keistimewaan, dan kemuliaan surat Al-Baqarah tersebut, terkandung rahasia-rahasia, dan kuatnya cahaya ketuhanan, sehingga menyebabkan setan lari sekencang-kencangnya, dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al-Baqarah. Kelebihan yang seperti ini tidak terdapat di surat lainnya. Abi Umamah, semoga Allah meridhainya, berkata: aku mendengar Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Bacalah Al-Qur'an! Maka sungguh ia akan datang sebagai syafaat (perantara permohonan kepada Allah), bagi sahabat Al-Qur'an (pembacanya). Bacalah dua semerbak! Surat Al-Baqarah dan Surat Al-Imran, maka sungguh keduanya akan datang pada hari kiamat, bagaikan dua awan, atau dua naungan, atau dua kelompok burung yang berbaris, sebagai hujjah (pembela) bagi sahabat keduanya (pembacanya). Bacalah Surat Al-Baqarah! Maka bila mengambilnya penuh berkah, dan meninggalkan membacanya adalah penyesalan, dan tukang sihir tidak mampu menanganinya." (Dilaporkan Imam Ahmad, dan Muslim dalam bab 'Shalat'). Bertutur Nawwas bin Sam'an, semoga Allah meridhainya: aku mendengar Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Pada hari kiamat, akan didatangkan Al-Qur'an dan ahlinya, orang-orang yang mereka bekerja dengannya (para pembacanya) di dunia, kelak akan didahului surat Al-Baqarah dan surat Al-Imran (untuk membelanya)." Dan Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, membuat tiga perumpamaan yang tidak bisa kulupakan, yaitu bersabda, "Keduanya bagaikan dua awan, dua naungan redup yang diantarakeduanya ada cahaya, atau keduanya bagaikan burung berbaris, hujjah (pembela) bagi sahabat keduanya." (Dilaporkan Imam Ahmad, Muslim dan Tirmidzi dalam Fado'ilul Qur'an). Tentang dua hadis keutamaan surat Al-Baqarah dan surat Al-Imran diatas, bahwasanya keduanya kelak dihari kiamat, akan datang sebagai pembela bagi pembacanya, dan penghafalnya, serta menaungi dari segala keburukan yang menimpa. Dalam kedua surat itu, terdapat kelebihan ahli Qur'an, yang mengamalkannya, dan kelak Al-Qur'an akan menjadi syafaat (perantara permohonan kepada Allah) bagi mereka (ahli Qur'an). Semoga Allah, Yang Maha Tinggi, menjadikan kita sebaik-baik ahli Al-Qur'an, yang menjaga hak-hak Al-Qur'an, menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan apa yang diharamkan dalam Al-Qur'an, dan termasuk orang-orang yang membacanya dengan benar bacaannya, sepanjang siang dan malam hari. Amin. Surat Al-Baqarah Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang 1. Ayat 1-20: Penyebutan aspek kemanusiaan yang berada dalam petunjuk, maupun yang tersesat, dimulai dari permulaan surat sampai ayat 20. Mereka yaitu orang-orang beriman murni, orang-orang kafir murni, dan orang-orang munafik. Tafsir Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, dalam Surat Al-Baqarah Firman-Nya Yang Maha Tinggi: [2.1] Alif Laam Miim [2.2] Itu Kitab (Suci), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang waspada (dari maksiat dan neraka) [2.3] Yang beriman dengan yang gaib dan mendirikan shalat (lima waktu) serta membelanjakan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dari Abi Jumu'ah, semoga Allah meridhainya, berkata: Kami sedang makan siang bersama Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, dan beserta kami Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang lebih utama dari kami?, kami telah Islam bersama engkau, dan kami telah berjihad bersama engkau. Beliau bersabda, "Ya, kaum yang berada sesudah kalian, mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak melihatku. (Dilaporkan Imam Ahmad, Hakim, dan selain keduanya dengan sanad (rantai pelapor) sahih. Disebutkan dalam "Majma" dengan pelaporan Ahmad, Abi Ya'la dan Tobaroni, dikatakan: dengan beragam sanad dan salah satu sanad Ahmad, para pelapornya terpercaya). Hadis tersebut memiliki persaksian dari sahabat Umar, semoga Allah meridhainya, yang berkata: Kami berada bersama Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, kemudian beliau bersabda, "Beritahukan kepadaku ahli iman yang paling utama keimanannya?" (beberapa sahabat) menjawab, "Wahai Rasulullah, para Malaikat". Beliau bersabda: "Para Malaikat memang demikian, dan keimanan paling utama adalah hak mereka, dan tidak ada yang bisa mencegah mereka dari posisi itu, dan Allah telah menempatkan mereka pada posisi itu. beritahu tentang yang lainnya?" (Umar berkata lagi) mereka menyebut para Nabi dan syuhada (pahlawan Islam) Lalu beliau bersabda: "Para kaum didalam tulang punggung orang-orang yang datang dari sesudahku, mereka beriman kepadaku dan mereka tidak melihatku, dan membenarkanku dan tidak melihatku, mendapati kertas tergantung, kemudian mereka mengamalkan apa yang didalamnya, karenanya merekalah ahli iman yang paling utama." (Dilaporkan Imam Abu Ya'la, Bazzar, Hakim, serta penetapan sahih dan hasan, disebutkan dalam "Majma" sebagian sanadnya, memiliki persaksian lain dari Anas yang dilaporkan Bazzar, dan dari Ibnu Umar yang dilaporkan Hasan bin Arofah). Dari Abi Umamah, semoga Allah meridhainya,yang bertutur: Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, telah bersabda, "Dapatkan lembah di surga, bagi orang yang melihatku dan beriman kepadaku, dan dapatkan lembah disurga tujuh kali, bagi orang yang tidak melihatku dan dia beriman kepadaku." (Dilaporkan Imam Ahmad, Toyalisi, ibnu Habban, Al-Haitsami berkata: Para pelapornya orang-orang sahih selain Aiman bin Malik Al-Asy'ari namun dia terpercaya. Hadis tersebut memiliki persaksian dari Anas, Abi Sa'id Al-Khudri dan Abi Abdurrahman Al-Juhani dan daftarnya terdapat dalam "Bidayatul Wusul"). Dari Abdurrahman bin Yazid yang berkata: Kami berada disisi Abdullah bin mas'ud, sedang duduk-duduk, kemudian kami menyebut sahabat-sahabat Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, dan amal-amal mereka yang mendahului kami, lalu Abdullah berkata: "Sungguh perkara Muhammad, pujian dan kedamaian kepadanya, adalah terang bagi siapa yang melihatnya, Demi Allah, tidak ada tuhan selain Dia, tiada beriman seseorang sama sekali dengan keimanan yang lebih utama dari beriman dengan yang gaib, kemudian dia membaca ayat: [2.1] Alif Laam Miim [2.2] Itu Kitab (Suci), tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang bertakwa (yang waspada dari maksiat dan neraka) [2.3] Yang beriman dengan yang gaib dan mendirikan shalat (lima waktu) serta membelanjakan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka [2.4] Mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kamu (Nabi Muhammad) dan apa yang telah diturunkan dari sebelum kamu (kepada Nabi Isa dan Musa), dan pada kehidupan akhirat mereka meyakini [2.5] Itu (semua) atas petunjuk dari Tuhan mereka dan mereka itu orang-orang yang menang" (Dilaporkan Sa'id bin Mansyur, Ibnu Abi Khatim, Hakim dan penetapan sahihnya pada kriteria Bukhari Muslim, dan Adz-Dzahabi telah menyetujuinya). Dalam beberapa hadis keutamaan beriman dengan yang gaib, sebagaimana yang disebutkan diatas, adalah diantara sifat orang-orang bertakwa (yang waspada dari maksiat dan neraka). Adapun yang gaib dalam ayat yang mulia tersebut, yaitu apa yang tidak terlihat oleh kita, termasuk apa yang tidak bisa dirasakan dengan panca indera kita, yang meliputi Iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya (rasul-rasul Allah), hari kiamat (hari keabadian), takdir dan ketetapan Allah, kehidupan sesudah kematian, kebangkitan dan penghitungan amal, pertemuan dengan Allah, pembalasan, surga, neraka, dsb. Itu semua hal-hal yang gaib, maka membenarkan pada itu semua, adalah termasuk sifat orang-orang bertakwa yang paling dasar, dimana atas mereka ada kemenangan (di surga). Firman Allah Yang Maha Tinggi: Mereka beriman dengan apa yang telah diturunkan kepada kamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan dari sebelum kamu (kepada Isa dan Musa), dan pada kehidupan akhirat mereka meyakini [2.4] Itu (semua) atas petunjuk dari Tuhan mereka dan itu mereka orang-orang yang menang (di surga)[2.5] Sungguh orang-orang yang kafir, sama bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [2.6] Allah telah menyetempel pada hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka, selubung. Dan bagi mereka siksa yang sangat besar [2.7] Dan diantara manusia yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari Keabadian", padahal mereka bukan orang-orang yang beriman [2.8] Mereka (mencoba) menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri, sedang mereka tidak merasa [2.9] Dalam hati mereka penyakit, lalu Allah meningkatkan penyakit mereka, dan bagi mereka siksa yang menyakitkan, sebab mereka berdusta [2.10] Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah kalian merusak di muka bumi", mereka mengatakan "sesungguhnya kami melakukan perbaikan (pembaharu)" [2.11] Perhatikanlah, sungguh merekalah para perusak, akan tetapi tidak merasa [2.12] Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang (lain) telah beriman" mereka mengatakan: "apakah kami beriman sebagaimana orang-orang bodoh telah beriman?", perhatikanlah, sungguh merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu [2.13] Dan apabila mereka bertemu orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". sedang apabila sendirian dengan syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan, "sungguh kami beserta kalian, sesungguhnya kami orang yang mengejek" [2.14] Allah akan mengejek pada mereka (untuk menanggapi) dan memanjangkan mereka dalam kesesatan mereka terombang-ambing [2.15] Itu (mereka) yang membeli petunjuk dengan kesesatan, maka tidak beruntung perniagaan mereka dan tiada mereka orang yang diberi petunjuk [2.16] 2. Ayat 17-20: Penyebutan pertama kali perumpamaan dalam Al-Qur'an, dan perumpamaan untuk orang munafik dengan api dan air. Perumpamaan mereka seperti perumpamaan yang menyalakan api, maka ketika telah menerangi yang disekelilingnya, Allah menarik pada cahaya mereka dan meninggalkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat [2.17] Tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak dapat kembali [2.18] Atau seperti hujan lebat dari langit didalamnya kegelapan, kilat dan petir, menjadikan jari-jari mereka didalam telinga mereka, (menghindar) dari guruh gemuruh (karena) takut kematian, dan Allah Maha Meliputi pada orang-orang kafir [2.19]. Kilat itu hampir menyambar penglihatan mereka. Setiap kali telah menyinari pada mereka, mereka berjalan didalamnya, dan apabila telah gelap atas mereka, mereka (tetap) berdiri. Dan seandainya Allah menghendaki, benar-benar menarik pada pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh Allah atas segala sesuatu Maha Berkuasa. Dari Abi Sa'id Al-Khudri, semoga Allah meridhainya, berkata: Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Hati itu ada empat: 1. Hati jelas bagaikan lampu yang bersinar. 2. Hati terbungkus yang lengket pada bungkusnya. 3. Hati terbalik. 4. Hati campur baur. Maka adapun hati jelas, adalah hati orang beriman, lalu cahayanya menerangi dia; dan adapun hati terbungkus, adalah hati orang kafir; dan adapun hati terbalik, adalah hati orang munafik yang murni, dia mengetahui kemudian mengingkari; dan adapun hati campur baur, adalah hati yang ada keimanan dan kemunafikan didalamnya, dan perumpamaan iman didalamnya, seperti perumpamaan biji yang disuplai air yang bagus, sedang perumpamaan kemunafikan didalamnya, seperti perumpamaan bisul yang disuplai nanah dan darah, maka diantara kedua penyuplai itu tumbuh dan akan tumbuh lebih daripada yang lainnya." (Dilaporkan Ahmad; Tobaroni dalam "Ma'jam Shoghir" dan terdaftar hadis tersebut dari gurunya yang bernama Musa, terdapat sanad (rantai pelapor) Laits bin Abi Salim dalam perkataannya, dan Ibnu Katsir menetapkan hasan baginya pada hadis ini). Allah, Yang Maha Mulia dan Maha Besar, telah memulai surat Al-Baqarah, dengan empat ayat tentang orang-orang beriman murni, dan dua ayat tentang orang kafir murni, serta tiga belas ayat tentang orang-orang munafik. Demikian itulah, tiga pembagian keadaan manusia yang berada dalam petunjuk dan yang tersesat. Terdapat didalam Al-Qur'an, bahwa ada dua macam orang munafik: 1. Munafik murni; perumpamaan yang dibuat bagi mereka berkaitan dengan api: {Perumpamaan mereka seperti perumpamaan yang menyalakan api, maka ketika telah menerangi yang disekelilingnya, Allah menarik pada cahaya mereka dan meninggalkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat [2.17]. 2. Munafik kesana kemari; terkadang nampak pada mereka sinar keimanan, dan terkadang tersembunyi. Mereka pemilik perumpamaan yang berkaitan dengan air: {atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati dan Allah Maha Meliputi pada orang-orang kafir [2.19}. Hadis yang disebutkan diatas, telah memerinci karakter macam-macam manusia, dan menjelaskannya. Ibnu Katsir, semoga Allah mengasihinya, berkata dalam kitab tafsirnya: Ringkasan dari ayat-ayat Al-Qur'an diatas yaitu, bahwa ada dua macam orang beriman; 1. Orang yang sangat dekat dengan Allah. 2. Orang yang berakhlak baik. dan ada dua macam orang kafir; 1. Para pengajak pada kekafiran. 2. Orang-orang yang mengikuti begitu saja pada kekafiran. serta ada dua macam orang munafik; 1. Munafik murni. 2. Orang munafik yang didalam dirinya terdapat cabang kemunafikan. Terdapat hadis dalam Sahih Bukhari Muslim, yang dilaporkan Abdullah bin Amr, bahwa Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda: "Tiga perkara ini, jika berada pada diri seseorang, maka menjadi orang munafik murni, dan jika terdapat salah satunya, tetap termasuk jenis kemunafikan sampai dia meninggalkannya: 1. Orang yang ketika berbicara berdusta. 2. Ketika berjanji mengingkari. 3. Ketika dipercaya berkhianat." Dalam pelaporan lain yang dilaporkan Abu Hurairah, "Ketika diabaikan menjadi bejat" (Seperti demikianlah Al-Hafiz Ibnu Katsir menghadirkan hadis. Hadis tersebut ada dalam bab Iman pada kitab sahih Bukhari Muslim). 3. Ayat 21: Percakapan pertama kali dari Allah untuk seluruh penyembah-Nya, memerintah mereka supaya menyembah-Nya,. Firman Allah Yang Maha Tinggi: Wahai manusia! sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan yang dari sebelum kamu, agar kamu waspada (dari maksiat dan neraka) [2.21] Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap dan menurunkan air dari langit lalu mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Maka janganlah kamu menjadikan bagi Allah, bandingan-bandingan, sedang kamu mengetahui [2.22] Tentang firman: "Maka janganlah kamu menjadikan bagi Allah, bandingan-bandingan, sedang kamu mengetahui [2.22] Abi Mas'ud, semoga Allah meridhainya, berkata: Aku bertanya kepada Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, dosa apakah yang paling besar disisi Allah? beliau bersabda, "bila menjadikan bandingan bagi Allah, dan Dia telah menciptakanmu" aku berkomentar: sungguh hal itu benar-benar besar. Aku bertanya: Kemudian apalagi?, beliau bersabda, "bila membunuh anakmu, karena khawatir dia makan bersamamu" aku bertanya kembali: sesudah itu apalagi? beliau bersabda, "bila berzina dengan perempuan yang halal bagi tetanggamu." (Dilaporkan Imam Ahmad, Bukhari dalam "Tafsir" dan "Adab", Muslim dalam "Iman", Abu Dawud, Tirmidzi dalam "Tafsir surat Al-Furqan, Nisa'i dalam tafsir "Al-Kubro"). Dari hadis tersebut kita memahami bahwa tidak ada yang menyamai Allah, dan juga tidak ada yang menyerupai-Nya, serta tiada pula yang bisa menyaingi-Nya. Tafsir untuk hadis tersebut adalah: bila mengadakan bandingan bagi Allah, maka menjadikan sekutu (partner) bersama Allah Yang Maha Tinggi adalah dosa terbesar secara mutlak; selanjutnya terdapat pembunuhan jiwa dengan tanpa hak, dan perbuatan paling keji itu, banyak terjadi di zaman jahiliyah (kebodohan), dimana orang tua membunuh anak-anaknya, karena khawatir memberi makan mereka; berikutnya adalah perbuatan zina yang sangat tercela, kejahatan terburuk yang paling besar dosanya, jika berzina dengan istri tetangga, yang mana orang Islam telah diperintahkan agar berbuat baik dengan tetangga, dan memuliakannya, serta memelihara hak-haknya, juga menjaga kehormatannya; kemudian ada dosa meninggalkan salat lima waktu yang lebih besar dosanya disisi Allah daripada membunuh orang maupun berzina; dan memakan harta riba (membungakan uang), juga lebih besar dosanya daripada berzina. Susunan dosa-dosa besar tersebut mungkin bisa berubah, Dan jika kamu dalam keraguan dari apa yang telah Kami turunkan kepada penyembah Kami (Muhammad), maka datangkanlah dengan satu surat dari semisalnya, dan ajaklah penolong-penolongmu dari selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar [2.23] Maka jika kamu tidak melakukannya dan kamu tidak akan melakukannya, maka waspadailah neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi orang-orang kafir [2.24] Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan bahwa bagi mereka surga-surga, mengalir dari bawahnya, sungai-sungai. Setiap kali diberi rizki darinya, dari buah-buahan, sebagai anugerah, mereka berkata: "Ini rizki yang diberikan kepada kami dahulu" dan diberi padanya yang serupa. Dan bagi mereka didalamnya, pasangan-pasangan yang suci, dan mereka didalamnya kekal [2.25] 4. Ayat 26 : Penyebutan nyamuk, dan rahasia dalam membuat perumpamaan dengan nyamuk. Sungguh Allah tidak malu bahwa memukul perumpamaan apa saja berupa nyamuk ataupun yang lebih besar. Adapun orang-orang beriman, maka mengetahui bahwa demikian kebenaran dari Tuhan mereka. Sedang adapun mereka yang kafir mengatakan: "Apa kehendak Allah dengan perumpamaan ini?", tersesat dengannya banyak dan mendapat petunjuk dengannya banyak. Dan tiada tersesat dengannya kecuali orang-orang yang fasik [2.26] Yang melanggar perjanjian Allah dari sesudah teguhnya dan memutuskan apa yang telah diperintahkan Allah dengannya agar dihubungkan dan mereka berbuat kerusakan bumi. Itu mereka orang-orang yang rugi [2.27] Bagaimana mengingkari kepada Allah, sedang kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, lantas menghidupkanmu, sesudah itu kepada-Nya dikembalikan [2.28] 5. Ayat 29 : Penyebutan pertama kali ayat yang mengungkap anugerah Allah, Yang Maha Mengetahui, kepada para penyembah-Nya, bahwa sesungguhnya semua yang ada dibumi, diciptakan hanya untuk mereka, sebagai karunia dari-Nya, dan Kelembutan-Nya terhadap mereka. Dia yang menciptakan bagimu apa yang dimuka bumi, semuanya, kemudian menakdirkan kepada langit, lalu menyempurnakannya (menjadi) tujuh langit. Dan Dia pada segala sesuatu Maha Mengetahui [2.29]." 6. Ayat 30 – 39 : Penyebutan secara khusus kisah leluhur manusia, Nabi Adam, kedamaian kepadanya, serta para Malaikat, kedamaian kepada mereka, dan iblis yang dilaknat. Kisah ini hanya terdapat di surat ini saja, diantara surat-surat yang diturunkan di Madinah (Madaniyah). Namun disebut dan diulang-ulang, dalam surat-surat yang diturunkan di Mekah (Makkiyah). 7. Ayat 30 : Allah, Yang Maha Tinggi, memberitahu para Malaikat-Nya, bahwa Dia hendak menjadikan khalifah di muka bumi. Firman Allah Yang Maha Tinggi: "Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sungguh Aku hendak menjadikan dimuka bumi khalifah". Mereka berkata: "Apakah hendak menjadikan didalamnya orang yang merusak padanya dan menumpahkan darah, sedang kami (senantiasa) bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan kepada Engkau?" Dia berfirman: "Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" [2.30] Dan mengajarkan Adam (bapak manusia) nama-nama seluruhnya, kemudian mengajukannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Beritahu Aku dengan nama-nama ini jika kamu adalah golongan yang benar" [2.31] Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada pengetahuan pada kami kecuali apa yang telah Engkau ajari kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [2.32] 8. Ayat 31 – 33 : Nikmat Allah, Yang Maha Bijaksana, kepada Nabi Adam, kedamaian kepadanya, dan memberinya keutamaan, serta kemuliaan, dengan mengajarinya nama-nama, dan menunjukkannya (Allah) Berfirman: "Hai Adam, beritahu mereka dengan nama-namanya". Maka ketika ia telah memberitahu mereka dengan nama-namanya, Berfirman: "Bukankah sudah Aku firmankan kepadamu sungguh Aku mengetahui gaib langit dan bumi dan mengetahui apa yang tampak dan apa yang kamu sembunyikan. [2.33] Abi Musa, semoga Allah meridhainya, berkata: Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, telah bersabda, "Sungguh Allah telah menciptakan Nabi Adam dari genggaman, yang mengambilnya dari seluruh bumi, karena itu datang keturunan Nabi Adam sebagaimana ukuran bumi, maka datang diantara mereka yang menjadi (berkulit) merah, putih, hitam, dan diantara demikian itu; dan ada yang mudah, keras, buruk dan bagus (perangainya)." (Dilaporkan Imam Ahmad, Abu Dawud dalam "Sunnah", Tirmidzi dalam "Tafsir", Ibnu Habban dalam "Ihsan", Hakim dan selainnya, dan Tirmidzi telah menetapkan sahih). Hadis tersebut memberitahu asal mula manusia, yang berasal dari tanah, dan berbagai akhlak (tingkah laku) nya sebagaimana beragamnya tanah, serta dijadikan sifat alami manusia sesuai dengan keadaan tanah asalnya masing-masing, dan mengikuti seluruh macam tanah yang ada didalam bumi. Tentang ayat diatas, dihalaman yang lain akan ada beberapa hadis yang menyebut tentang Nabi Adam, kedamaian kepadanya. Dan tentang firman-Nya Yang Maha Tinggi, "Sungguh Aku hendak menjadikan dimuka bumi khalifah". Ini adalah tanda bahwasanya manusia harus memiliki seorang khalifah, sebagai wakil Allah dimuka bumi, untuk menegakkan hukum keadilan, dan menangani urusan-urusan agama dan dunia. Keberadaan khalifah ini adalah hal penting, yang memperwujudkan hukum-hukum dan peraturan-peraturan, dimana terdapat banyak hadis yang meliput tentangnya. Sahabat Anas, semoga Allah meridhainya, berkata bahwa Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda: "Orang-orang beriman akan berkumpul dihari kiamat, kemudian mereka berkata: Andai memintakan kita syafaat (perantara yang menyampaikan permohonan) kepada Tuhan kita, sehingga kita beristirahat dari tempat kita ini, maka mereka mendatangi Nabi Adam, lalu berkata: Wahai Adam! Engkau bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan telah bersujud kepadamu para Malaikat-Nya, dan Dia telah mengajarkanmu nama-nama segala sesuatu, maka jadilah syafaat bagi kami kepada Tuhanmu, sehingga kita beristirahat dari tempat kita ini...)" sebagian isi hadis tentang syafaat yang panjang. (Dilaporkan Imam Ahmad; Bukhari dalam bab Tafsir, Roqo'iq dan Tauhid; Muslim dalam bab Iman; Nisa'i dalam Sunan Al-Kubro; dll). Terdapat kalimat "Engkau bapak manusia" dalam hadis diatas. Pelaporan lain menyebutkan "Engkau bapak orang-orang". Hadis itu sekaligus sebagai jawaban untuk para pengikut teori Darwin, yang menganggap bahwa manusia berasal dari kera, semoga Allah melaknat mereka. Kalimat "Dia telah mengajarkanmu nama-nama segala sesuatu" bermakna bahwa Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Besar, telah mengajarinya seluruh nama-nama benda dan selainnya, termasuk apa saja yang akan ada dari segala macam sesuatu yang ada, dengan semua bahasa anak-anak keturunannya. Hal tersebut menunjukkan besarnya kemuliaan, yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Adam, dan meluber kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepadanya. Pengajaran nama-nama itu, menjadikannya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki para malaikat, kemuliaan dan kedamaian kepada mereka. Firman Allah: "Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sungguh Aku hendak menjadikan dimuka bumi khalifah". Mereka berkata: "Apakah hendak menjadikan didalamnya orang yang merusak padanya dan menumpahkan darah, sedang kami (senantiasa) bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan kepada Engkau?" Dia berfirman: "Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" [2.30] Terlihat jelas sekali dari ayat itu, bahwasanya Allah telah bercakap-cakap dengan para malaikat-Nya, dan mereka pun menjawab firman-Nya. Arti ayat-ayat diatas: Ungkapkan wahai utusan-Ku (Muhammad), kepada kaummu, ketika apa yang Tuhanmu telah berkata kepada para malaikat-Nya: "Sungguh Aku Pencipta khalifah sekaligus rasul di muka bumi, yang mewakili Aku untuk menjalankan hukum-hukum-Ku didalamnya." Lalu para malaikat menjawab dengan bernada keheranan, dan memohon pemberitahuan: "Bagaimana bisa mewakili orang yang berbuat kerusakan dimuka bumi, dengan berbagai kemaksiatan, dan menumpahkan darah orang-orang tak bersalah, sedang kami mensucikan Engkau (mengucap "Maha Suci Allah") dari apa yang tidak patut bagi Engkau, sibuk dengan memuji, dan mengagungkan Engkau, serta menyebut-nyebut Engkau (berzikir)." Allah Yang Maha Tinggi berfirman kepada para malaikat: "Sungguh Aku lebih mengetahui apa yang bagus, dan apa yang bijaksana, dalam penciptaan Adam, sesuatu yang kalian tidak mengetahuinya." Allah telah mengajarkan Nabi Adam nama-nama sesuatu yang bernama seluruhnya, bahkan bejana, panci, sendok kuah, jarum, dsb. Kemudian Allah mengemukakan sesuatu yang bernama itu, pada para malaikat, lalu berfirman: "Beritahu Aku nama-nama makhluk yang kalian saksikan ini?" Para malaikat tidak mengenal itu semua kemudian mereka berucap: "Maha Suci Engkau, Yang Maha Sempurna, tidak ada pengetahuan bagi kami, kecuali apa yang telah Engkau ajari kami. Sungguh Engkau Maha Mengetahui, dan tidak ada yang tersembunyi bagi Engkau. Engkau Maha Bijaksana, yang tidak berbuat kecuali berdasarkan kebijaksanaan." Sesudah itu, Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Wahai Adam, beritahu mereka nama-nama makhluk yang tidak mereka ketahui itu." Maka Nabi Adam pun memberitahu para malaikat, nama-nama makhluk tersebut. Presentasi Tuhan yang terdapat dalam kisah tersebut, menunjukkan kemuliaan Nabi Adam, kedamaian kepadanya. Allah memberinya anugerah, serta mengangkat derajatnya dengan pengetahuan. Meluber pengetahuan itu, pada ruh Nabi Adam yang suci bersih, yang mana para Malaikat tidak melihatnya. Kemuliaan Nabi Adam, berarti juga kemuliaan semua bangsa manusia. Dalam hal ini, Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq-96:5). Segala puji bagi Allah, dengan pujian melimpah, yang bagus, penuh keberkahan didalam pujian tersebut, dengan berkat diatasnya, sebagaimana yang disukai Tuhan kita dan diridhai-Nya. [2.34] Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, bertutur: Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Ketika anak Adam membaca ayat tentang sujud, lalu dia bersujud, setan menjauh sambil menangis berujar 'oh celaka! anak Adam diperintah bersujud, kemudian dia sujud, maka baginya surga, sedang aku diperintah bersujud, lalu aku bermaksiat, maka untukku neraka'." (Dilaporkan Imam Ahmad, Muslim dalam bab Iman, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah). Didalam hadis itu, terdapat keutamaan bersujud, setiap kali habis membaca ayat sajadah (yang memerintahkan untuk bersujud), dan sujud tersebut, termasuk yang menyebabkan bisa masuk surga. Sujud tersebut mengolok-olok setan, dimana iblis mengakui, kalau dia adalah ahli neraka, karena telah menolak perintah Allah, untuk bersujud bersama para Malaikat, kedamaian kepada mereka. Sujud yang diperintah Allah, yaitu sujud secara nyata kepada Nabi Adam kedamaian kepadanya, supaya iblis respek kepadanya, memuliakan, menghormati, dan memberi salam kepadanya, serta mematuhi kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Besar.999. Allah memerintah para penyembah-Nya dengan apa yang Dia kehendaki.999 999 [2.35] Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim. [2.36] Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". [2.37] Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. [2.38] Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". [2.39] Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. 9. Ayat 40 - 123 : Penyebutan-Nya, Yang Maha Agung, tentang Bani Israil, dan percakapan-Nya dengan mereka, serta mengingatkan mereka, dengan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka. Pembahasan ini mencapai kira-kira sepertiga dari surat, dimulai dari ayat 40 sampai terakhir ayat 123. [2.40] Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). [2.41] Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa [2.42] Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. [2.43] Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. 10. Ayat 44 : Celaan untuk orang yang menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, namun melupakan dirinya sendiri. [2.44] Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? [2.45] Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, [2.46] (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. [2.47] Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat [2.48] Dan jagalah dirimu dari (`azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikit pun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa`at dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. [2.49] Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. [2.50] Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. [2.51] Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang lalim. [2.52] Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. [2.53] Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk. [2.54] Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." [2.55] Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang", karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. [2.56] Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur. [2.57] Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [2.58] Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik". [2.59] Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik. [2.60] Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. 11. Ayat 61 : Penyebutan kisah Bani Israil, dan ucapan mereka kepada Nabi Musa, kedamaian kepadanya: Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja, maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia mengeluarkan bagi kami, dari apa yang ditumbuhkan bumi. [2.61] Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [2.62] Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [2.63] Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa". [2.64] Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi. [2.65] Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina". [2.66] Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa 12. Ayat 67 - 73 : Penyebutan kisah sapi betina dan menghidupkan mayat, lalu mayat tersebut memberitahu siapa yang membunuhnya. Didalam kisah itu terdapat pelajaran berharga. [2.67] Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil". [2.68] Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". [2.69] Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya." [2.70] Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)." [2.71] Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. [2.72] Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. [2.73] Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayit itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti 13. Ayat 74 : Penyebutan ayat tentang batu yang terbelah, karena sangat takut kepada Allah, dan mengagungkan-Nya. Kemudian keluar sungai-sungai, dan mata air dari batu itu, dan memancar dengan deras, kemudian meluncur jatuh, dan terpecah kecil-kecil karena takut kepada Allah. [2.74] Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. [2.75] Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? [2.76] Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah beriman," tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?" [2.77] Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? [2.78] Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. [2.79] Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. [2.80] Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?". [2.81] (Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. [2.82] Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. [2.83] Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. [2.84] Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. [2.85] Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. [2.86] Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. [2.87] Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada `Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? [2.88] Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. [2.89] Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. [2.90] Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. [2.91] Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Qur'an yang diturunkan Allah", mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur'an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?" [2.92] Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang lalim. [2.93] Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengarkan tetapi tidak menaati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)". [2.94] Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar. [2.95] Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. 14. Ayat 96 : Bahwasanya orang Yahudi itu, manusia paling rakus kepada kehidupan, dari tiap-tiap umat. [2.96] Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. 15. Ayat 97, 98 : Orang-orang Yahudi memusuhi pada Malaikat Jibril. Memusuhi dengan terang-terangan. [2.97] Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. [2.98] Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir. [2.99] Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. [2.100] Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. [2.101] Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah). 16. Ayat 102 : Nabi Sulaiman terlepas dirinya dari sihir; dimana orang Yahudi mengaitkannya dengan sihir itu adalah dusta dan kepalsuan. 17. Ayat 102 : Penyebutan Harut dan Marut, dan memaksa keduanya supaya memberi nasehat, sebelum mengajari orang sihir. [2.102] Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. [2.103] Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. [2.104] Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa`ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih. [2.105] Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. 18. Ayat 106 : Peraturan penggantian hukum (naskh) dalam Islam, dan bahwasanya Allah, Yang Maha Agung, menggantinya dengan yang lebih baik, atau yang setara. [2.106] Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? [2.107] Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. [2.108] Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israel meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. [2.109] Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [2.110] Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. [2.111] Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". [2.112] (Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [2.113] Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. 19. Ayat 114 : Penjelasan bahwasanya tidak seorangpun yang lebih zalim, daripada orang yang melarang manusia, dari mengingat Allah didalam masjid. [2.114] Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. [2.115] Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. [2.116] Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. [2.117] Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia. [2.118] Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin. [2.119] Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. 20. Ayat 120 : Orang-orang Yahudi dan Nasrani, tidak rela kepada orang-orang Islam, hingga menjadi seperti mereka. [2.120] Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [2.121] Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [2.122] Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. [2.123] Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikit pun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. [2.124] Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim". [2.125] Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud". [2.126] Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". [2.127] Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [2.128] Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. 21. Ayat 129 : Nabi Ibrahim, kedamaian kepadanya, berdoa kepada Allah, agar mengutus Nabi Muhammad, pujian dan kedamaian kepadanya, untuk seluruh dunia, dimulai dari mekah, dimana ada Rumah Allah (Ka'bah), yang dibangun olehnya. Nabi Ibrahim adalah penyeru adzan pertama kali, yangmengundang umat seluruh dunia untuk datang. Umat manusia datang dan berkata "Labbaik (mematuhi kebahagiaan) pada panggilan Nabi Ibrahim. [2.129] Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [2.130] Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. [2.131] Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". 22. Ayat 132 : Wasiat Nabi Ibrahim dan Nabi Ya'kub, kedamaian kepada keduanya, kepada anak-anak keturunannya, supaya mengikuti agama Islam, dan tetap teguh atasnya sampai mati. [2.132] Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". [2.133] Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." [2.134] Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. [2.135] Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik". [2.136] Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". [2.137] Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [2.138] Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. [2.139] Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, [2.140] ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. [2.141] Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. 23. Ayat 142-150 : Kisah perubahan kiblat, dari Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) ke Masjidil Haram, serta apa yang terjadi disampingnya, termasuk kritikan orang-orang Yahudi, dsb. Juga kewajiban menghadapkan muka kearah masjidil Haram. Menghadap ke kiblat dari arah mana saja dimuka bumi. [2.142] Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. 24. Ayat 143 : Allah, Yang Maha Besar, mengutamakan pada umat Nabi Muhammad, dengan menjadikan mereka umat pertengahan, yakni pilihan dan adil. [2.143] Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. [2.144] Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. [2.145] Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang lalim. [2.146] Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. [2.147] Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. [2.148] Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [2.149] Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. [2.150] Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang lalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. [2.151] Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [2.152] Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) #NAME? 25. Ayat 153-157 : Dalam syariat keislaman, terdapat Istirja' (yaitu perkataan "Sungguh kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali" bisa juga "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan sebaik-baik Pelindung") ketika ada musibah, dan pahala orang yang sabar menghadapinya. [2.153] Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [2.154] Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. [2.155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, [2.156] (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" [2.157] Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. 26. Ayat 158 : Penyebutan Shofa dan Marwah, dan tawaf (berjalan berkeliling beberapa kali) diantara keduanya. Bahwasanya Shofa dan Marwah itu termasuk bendera (kepentingan besar), dalam agama Allah. [2.158] Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. 27. Ayat 159,160 : Hukum menyembunyikan ilmu, serta apa-apa yang telah diturunkan Allah, Yang Maha Besar, berupa agama yang benar. [2.159] Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, [2.160] kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. [2.161] Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya. [2.162] Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. [2.163] Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [2.164] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. [2.165] Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). [2.166] (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. [2.167] Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka. [2.168] Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. [2.169] Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [2.170] Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" [2.171] Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. [2.172] Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. [2.173] Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [2.174] Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. [2.175] Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka! [2.176] Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh. [2.177] Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. 28. Ayat 178-179 : Penjelasan hukum "kriminal berdarah" (segala kejahatan yang mengucurkan darah), dan bahwasanya demi keadilan pihak yang jadi korban. Bertujuan perlindungan kelangsungan hidup manusia. [2.178] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. [2.179] Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. [2.180] Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapa dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. [2.181] Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [2.182] (Akan tetapi) barang siapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 29. Ayat 183-187 : Penjelasan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan, dan sebagian hukum-hukumnya. [2.183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, [2.184] (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [2.185] (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. [2.186] Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 30. Ayat 187 : Penyebutan I'tikaf (berada di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah), dan sebagian hukum-hukumnya. I'tikaf hanya bisa dilakukan didalam masjid. [2.187] Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. 31. Ayat 188 : Larangan membayar uang sogok (suap) kepada hakim, untuk mengambil harta manusia dengan dosa (tidak halal). [2.188] Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. 32. Ayat 189 : Penciptaan bulan sabit, dan rahasia didalamnya, serta hukum-hukum yang berhubungan dengannya. [2.189] Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. 33. Ayat 190-194 : Perintah berperang, dan larangan berperang di tanah Haram Mekah, kecuali mempertahankan diri. [2.190] Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. [2.191] Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. [2.192] Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [2.193] Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang lalim. [2.194] Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum kisas. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. 34. Ayat 195 : Larangan menjatuhkan diri dalam kehancuran. Hal ini umum bagi siapa saja. [2.195] Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. 35. Ayat 196 : Kewajiban menyempurnakan haji dan umrah, bagi orang yang telah mulai mengerjakannya. 36. Ayat 196 : Hambatan yang menjadikan tidak bisa melanjutkan haji dan umrah, beserta tindakan apa yang wajib dilakukan. 37. Ayat 196 : Peraturan Hukum Keislaman tentang fidyah (berpuasa atau bersedekah atau berkurban) didalam haji dan umrah, bagi orang yang sakit, atau ada gangguan ketika menjalankannya. 38. Ayat 196 : Peraturan Hukum Keislaman, tentang menikmati kesempatan menanti tibanya waktu haji, dan hukum-hukum yang mengikutinya. [2.196] Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidilharam (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. 39. Ayat 197 : Penyebutan waktu-waktu permulaan haji, dan berakhirnya. [2.197] (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. 40. Ayat 198 : Boleh berdagang didalam haji, dan bahwasanya tidak berdosa untuk melakukannya. 41. Ayat 198,199 : Peraturan Hukum Keislaman bertolak dari Arafah, dan turun di Muzdalifah. [2.198] Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. [2.199] Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 42. Ayat 200 : Peraturan Hukum Keislaman (syariat) berzikir kepada Allah, di hari-hari yang ditentukan, hari-hari di Mina. [2.200] Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. [2.201] Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". [2.202] Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. [2.203] Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. [2.204] Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. [2.205] Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. [2.206] Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahanam. Dan sungguh neraka Jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. [2.207] Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. [2.208] Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. [2.209] Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [2.210] Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan [2.211] Tanyakanlah kepada Bani Israel: "Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka". Dan barang siapa yang menukar ni`mat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya. [2.212] Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. [2.213] Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. [2.214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. [2.215] Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. [2.216] Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [2.217] Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. [2.218] Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 43. Ayat 219 : Penyebutan pertama kali ayat turun tentang celanya khamar (segala minuman yang memabukkan), dan judi. [2.219] Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir, [2.220] tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 44. Ayat 221 : Larangan menikahi perempuan-perempuan musyrik (yang menyekutukan Allah), dan menikahkan laki-laki musyrik. [2.221] Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. 45. Ayat 222 : Penyebutan menstruasi (haid), dan larangan mencampuri wanita yang haid hingga dia suci. [2.222] Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. 46. Ayat 223 : Allah, Yang Maha Agung, menjadikan orang-orang perempuan, sebagai ladang bagi orang-orang laki-laki. [2.223] Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. [2.224] Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [2.225] Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. 47. Ayat 226,227 : Penjelasan ila' (bersumpah tidak akan mencampuri istri), yaitu bersumpah meninggalkan hubungan seksual dengan istri. [2.226] Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [2.227] Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 48. Ayat 228 : Penjelasan iddah (masa menunggu sebelum bisa kawin lagi), bagi yang diceraikan, dimana berakhir setelah tiga periode menstruasi. 49. Ayat 228 : Penjelasan bahwa orang yang menceraikan (suami), berhak merujuk (kembali mengawini) istrinya, selama masa iddah (masa menunggu sebelum bisa kawin lagi), jika menghendaki pemulihan. 50. Ayat 228 : Penjelasan hak-hak suami istri, dan bahwa bagi masing-masing memiliki hak satu sama lain. [2.228] Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 51 Ayat 229 : Penjelasan macam-macam talak (perceraian), bilamana terbuka kesempatan bagi suami untuk kembali pada istrinya. 52. Ayat 229 : Peraturan Hukum Keislaman tentang Khulu' (permintaan cerai istri kepada suami), dan fidyah (tebusan) wanita untuk membebaskan dirinya dari suami, jika takut kehidupan yang buruk, dan tidak adanya saling menghargai hak masing-masing. [2.229] Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang lalim. 53. Ayat 230 : Penjelasan talak (perceraian) bilamana haram sesudahnya istri atas suaminya. [2.230] Kemudian jika si suami menlalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. 54. Ayat 231 : larangan menzalimi istri, dan sungguh hal itu termasuk mengejek ayat-ayat Allah. [2.231] Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As Sunah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 55. Ayat 232 : Larangan menghalangi suami kembali kepada istrinya, sesudah menceraikannya, jika mereka saling menyukai, dan memperbaiki keadaan diantara keduanya. [2.232] Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu habis idahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang makruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. 56. Ayat 233 : Penjelasan masa penyusuan bayi menurut Peraturan Hukum Keislaman, dalam sebuah keluarga. [2.233] Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. 57. Ayat 234 : Penjelasan iddah (masa menunggu sebelum bisa kawin lagi), bagi wanita yang ditinggal mati suaminya. [2.234] Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. 58. Ayat 235 : Larangan meminang wanita yang sedang dalam masa iddah. [2.235] Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis idahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. 59. Ayat 236,237 : Peraturan Hukum Keislaman tentang talak (perceraian), sebelum dan sesudah pemberian mahar, bersentuhan dan berhubungan badan. [2.236] Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut-ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. [2.237] Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan. 60. Ayat 238 : Kewajiban memelihara shalat wustho yang spesial, yaitu shalat asar. [2.238] Peliharalah segala salat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk. [2.239] Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka salatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (salatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [2.240] Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang makruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [2.241] Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah menurut yang makruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa. [2.242] Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu memahaminya. 61. Ayat 243 : Kisah orang-orang Israil yang keluar dari kampung halaman mereka, lari dari kematian, kemudian Allah mematikan mereka, lalu menghidupkan mereka. [2.243] Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: "Matilah kamu", kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. [2.244] Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [2.245] Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. 62. Ayat 246-252: Penyebutan kisah Tholut dan Jalut, serta pelajaran berharga tentangnya. [2.246] Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang." Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?" Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim. [2.247] Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?" (Nabi mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. [2.248] Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. [2.249] Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya." Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." [2.250] Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". [2.251] Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. [2.252] Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus. [2.253] Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. [2.254] Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim. 63. Ayat 255 : Penyebutan ayat Kursi adalah ayat paling mulia didalam Al-Qur'an. Ayat Kursi Ubay bin Ka'ab bertutur: Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, bersabda, "Wahai Abal Mundzir! Ayat apa yang paling agung didalam Kitab Allah?" aku (Ubay bin Ka'ab) menjawab: "Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Hidup kekal, Yang Berdiri Sendiri (Ayat Kursi)". Kemudian beliau menepuk-nepuk dadaku lalu bersabda, "Selamat berbahagia atas pengetahuanmu Abal Mundzir" lalu bersabda lagi, "Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh pada ayat ini, lidah dan dua bibir menyucikan Yang Maha Merajai disisi 999 Singgasana". (Dilaporkan Imam Ahmad dan Muslim dalam "Salat" serta Abu Dawud). Didalam hadis itu terdapat keutamaan Ayat Kursi, yang merupakan ayat paling agung didalam Al-Qur'an, sebab apa yang dikandungnya, dan tercakup didalamnya, asas Nama-nama dan Sifat-sifat Allah, tentang Ketuhanan-Nya, Kehidupan Kekal-Nya, KeEsa-an (Ketunggalan-Nya), Pengetahuan, Kerajaan, Kekuasaan dan Kehendak-Nya. Abi Umamah, semoga Allah meridhainya, berkata: Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, telah bersabda, "Siapa yang membaca ayat Kursi sesudah tiap salat lima waktu, tidak akan mencegahnya dari masuk surga kecuali kematian." (Dilaporkan Imam Nisa'i dalam "Amal Yaum Wa Laila", Tobaroni dan Ibnu Habban sebagaimana laporan Al-Mundziri dalam "Targhib" yang berkata "sanad (rantai pelapor) salah satunya adalah sahih", dan Al-Haitsami menganggap bagus dimana tertuang dalam "Majma". Hadis tersebut memiliki beberapa sanad (rantai pelapor) beserta isi yang saling menyerupai, diantaranya Mughirah bin Su'bah dari pelapor Abi Nu'aim dalam "Khilyah" yang sanadnya bagus dan saling mendukung pada pelaporan lainnya). Nampak jelas di hadis tersebut, keutamaan membaca ayat Kursi yang agung, sesudah tiap-tiap salat lima waktu, dimana termasuk yang menyebabkan masuk surga. Insya Allah, hadis tentang ayat Kursi yang lain akan hadir dihalaman selanjutnya (dilaporkan Abu Hurairah). [2.255] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [2.256] Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [2.257] Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. 64. Ayat 258 : Penyebutan kisah orang kejam, yang mendebat Nabi Ibrahim tentang Tuhannya (Allah). [2.258] Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. 65. Ayat 259 : Kisah lelaki yang melewati suatu negeri yang hancur, lalu Allah mematikan lelaki itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. [2.259] Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari". Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". 66. Ayat 260 : Kisah Al-Kholil (Nabi Ibrahim), pujian dan kedamaian kepadanya, dan burung-burung yang hidup lagi. [2.260] Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)". Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 67. Ayat 261 : Melipatgandakan sedekah, sampai tujuh ratus kali lipat. [2.261] Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. 68. Ayat 262-264: Tercelanya menyebut-nyebut pemberian dalam bersedekah, dan bahwa hal itu menghilangkan pahala. [2.262] Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [2.263] Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. [2.264] Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. 69 Ayat 265,266: Perumpamaan indah disebut bagi orang yang bersedekah dan sedekah. [2.265] Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. [2.266] Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. [2.267] Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. [2.268] Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. 70. Ayat 269 : Siapa yang diberi hikmah (kebijaksanaan), maka sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. [2.269] Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). [2.270] Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat lalim tidak ada seorang penolong pun baginya. [2.271] Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [2.272] Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan). [2.273] (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. [2.274] Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 71. Ayat 275-279: Haramnya perbuatan riba (membungakan uang), dan ancaman keras untuk orang yang melakukannya. [2.275] Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. [2.276] Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. [2.277] Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. [2.278] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. [2.279] Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. 72. Ayat 280 : Petunjuk atas penangguhan bagi orang yang kesulitan melunasi hutang, atau memaafkannya. [2.280] Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. 73. Ayat 281 : Penyebutan ayat terakhir yang turun dalam Al-Qur'an secara pasti. [2.281] Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). 74. Ayat 282 : Penyebutan ayat terbesar dalam Al-Qur'an, dan ia termasuk ayat Madaniyah (diturunkan di Madinah). 75. Ayat 282,283: Penjelasan saksi, dan persaksian, serta yang menyertainya. [2.282] Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. 76. Ayat 283 : Peraturan Hukum Keislaman rohn (gadai) ketika ragu untuk mempercayai orang lain. [2.283] Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 77. Ayat 284-286: Penyebutan penutup surat Al-Baqarah dan karunia didalamnya. [2.284] Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [2.285] Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". [2.286] Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Puji syukur kepada Allah, yang telah memudahkan dalam memahami surat Al-Baqarah ini, dimana aneka keistimewaan diatas, tidak terdapat di surat lainnya. Namun mungkin menemukan di surat lainnya, bagi orang yang mempelajarinya secara mendalam, dan menghayati dengan sempurna. Dan pertolongan itu dari Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, kepada-Nya memohon pertolongan. Penutup Surat Al-Baqarah Dari Abi Musa, semoga Allah meridhainya, yang berkata: Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, telah bersabda, "Dua ayat diakhir surat Al-Baqarah, barangsiapa yang membaca keduanya dimalam hari, mencukupi untuknya." Sabdanya "mencukupi untuknya", bermakna: tidur dalam keimanan. (Dilaporkan ImamAhmad, Bukhari dalam "Keistimewaan Surat Al-Baqarah" dan "Magoozi", Muslim dalam "Salat", Tirmidzi, Darimi, dan sisanya dalam enam kitab hadis yang terkenal [Kutubus Sittah]) Ibnu Abbas, semoga Allah meridhai dia dan ayahnya, berkata: Sementara Rasulullah, pujian dan kedamaian kepadanya, disampingnya Malaikat Jibril, kedamaian kepadanya, ketika terdengar suara dari arah atasnya maka Malaikat Jibril, kedamaian kepadanya, mengangkat pandangannya ke langit, kemudian berkata, "ini pintu terbuka dari langit, tidak terbuka sebelumnya". Maka turun Malaikat dari pintu itu, kemudian mendatangi Nabi, pujian dan kedamaian kepadanya, lalu berkata, "Aku membawa berita gembira, dengan dua cahaya, yang engkau diberi keduanya, tidak diberikan pada Nabi sebelummu, yaitu Pembuka Al-Kitab (surat Al-Fatihah) dan Penutup surat Al-Baqarah, tidaklah terbaca satu huruf dari keduanya, kecuali engkau akan diberinya." Kalimat, "engkau akan diberinya", bermakna: engkau akan diberi cahaya dari tiap huruf ketika engkau membacanya. (Dilaporkan Imam Muslim dalam "Fado'ilul Qur'an" pada bab "salat"). Dalam dua hadis tersebut, terdapat keutamaan penutup surat Al-Baqarah, dan bahwasanya surat Al-Baqarah ini, mempunyai kedudukan yang agung disisi Allah, Yang Maha Mulia, Maha Besar. Keterangan lebih jelas, bisa dilihat pada pembahasan dua ayat tersebut, di halaman selanjutnya. .. To be continued inshaAllah 62 |
Copyright©Ahmad Darwish - ahmad@mosque.com